SEKILAS INFO

     » WEBSET RESMI KECAMATAN KEBONSARI # N K R I HARGA MATI
Kamis, 23 Juli 2015 - 08:25:54 WIB
Ketika keceriaan berubah menjadi duka di Sedudo

Diposting oleh : Baskoro Widha Mandala.S.Sos
Kategori: Tentang Madiun - Dibaca: 333 kali

Keceriaan pengunjung Air Terjun Sedudo di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (21/7), tiba-tiba berubah duka. Air terjun yang dikenal memiliki tuah untuk awet muda itu longsor. Tiga orang meninggal, lima luka berat dan 11 orang luka ringan.

Pagi hingga sore, warga mendatangi lokasi wisata ini seperti hari-hari libur biasanya, kolam pemandian yang juga dikenal sebagai Pesona Wilis kerap dijadikan lokasi pencucian pusaka ini selalu ramai. Selain untuk menikmati keindahan Air Terjun Sedudo, para wisatawan juga mandi di bawah guyuran air terjun.

Mereka, para wisatawan, mandi di kolam, selain ada yang hanya sekadar mandi, mereka juga ada yang sengaja ingin awet muda dan mencari obat dengan mandi di kolam Air Terjun Sedudo.

Keluarga Abdul Rahman (65), warga Wadung Asri, Waru, Sidoarjo ini misalnya. Saat berlebaran bersama anak, menantu dan cucu-cucunya ke saudaranya di Kecamatan Berbek, Nganjuk, kakek tiga cucu ini menyempatkan diri ke Sedudo sebelum kembali pulang ke Sidoarjo.

"Saya ke sana (Sedudo) sama anak-anak karena cucu-cucu saya pingin mandi di sana, jadi akhirnya ya kita ke sana rame-rame," kata Abdul Rahman menceritakan.

Sepulang dari sana, lanjut dia, tiba-tiba anak dan menantunya, mendapat telepon dari keluarga yang lain. "Ada yang dari Surabaya, ada yang di Bali. Mereka tanya apa saya dan anak-anak masih di Sedudo, apa sudah pulang. Katanya Sedudo longsor, ada yang meninggal," sambung bapak dua anak ini sembari mengucap syukur.

Senada, anak pertama kakek kelahiran Jombang ini, juga tak henti-hentinya mengucap syukur karena selamat dari peritiwa nahas tersebut. "Alhamdulillah, kami semua sudah pulang saat kejadian. Ini tadi, saya, adik saya dikasih tahu lewat telepon sama keluarga-keluarga yang ada di Surabaya. Mereka juga tanya kejadiannya, ya saya bilang sudah pulang," ucap Siti Mahfudah, anak pertama Abdul Rahman.

Saat hendak pulang menuju parkiran, sambung ibu dua anak ini, sempat mendengar Andriansyah juga berbicara ke ayahnya, yakni jika batu besar yang berada di atas di atas air terjun tiba-tiba terjatuh.

"Bapak saya mendongak ke atas, terus anak pertama saya nyletuk itu bengkoang, sambil ketawa-ketawa. Karena batu-batunya kan besar-besar itu, ada yang mirip buah bengkoang. Ternyata rasan-rasan itu kejadian. Tapi saya sekeluarga juga mengucap syukur Alhamdulillah, sudah pulang saat kejadian," kenangnya.

Sementara Andriansyah menceritakan, saat datang ke pemandian Sedudo, dia dan keenam keluarganya sempat melihat keceriaan orang-orang yang berwisata di kolam pemandian untuk awet muda itu. Bahkan, tak jarang para pengunjung, termasuk keluarga Abdul Rahman, berfoto bersama mengabadikan keceriaan di bawah air terjun bertuah itu.

"Pagi saya sudah ada di Sedudo. Suasananya sudah ramai. Saya melihat mereka (wisatawan) semua senang. Anak-anak juga berenang, menyelam di bawah air kolam. Ada yang berfoto-foto tepat di bawah air terjun, foto di tengah kolam dan ada juga di pinggir kolam bersama kekasih mereka masing-masing. Saya tidak menyangka keceriaan itu bisa berubah petaka," katanya menyayangkan.

Diberitakan sebelumnya, Air Terjun Sedudo yang terkenal sejak zaman Majapahit karena diyakini tirta suci dari kahyangan ini, mengalami longsor, sekitar pukul 16.00 WIB. Kejadian itu diawali pohon tumbang dari ketinggian 105 meter dan terjun bebas ke arah para pengunjung. Tumbangnya pohon itu disertai longsoran batu kecil-kecil berdiameter sekitar 10 centimeter.

Akibatnya, tiga orang meninggal, lima orang luka berat dan 11 orang luka ringan karena tertimpa reruntuhan pohon dan batu. Sekitar pukul 16 30 WIB, seluruh korban dievakuasi ke RSUD Nganjuk.

Korban meninggal di antaranya; Subkhan Anang Mashuro (35), warga Jalan Jepara 10/36 Surabaya, Sofyan Sahuri (26), warga Jalan Kapas Jaya, Surabaya dan Hendra Pramono Setyawan (12), warga Jalan Diponegoro II, Karangwaru, Tulungagung.

Sedangkan korban yang dirawat di RSUD Nganjuk; Marita (36), warga Jalan Semarang Gg Kuburan Nomor 2, Surabaya. Marita mengalami luka sobek di tangan kiri. Kemudian Sita Magforotin (42) warga Sidoarjo (luka robek di pelipis kiri), Aris (30), warga Jalan Sriwijaya 3 B, Kediri (luka robek di pelipis kanan dan dahi), Bagus Dwi Ratna (30), warga Semare Kecamatan Berbek, Nganjuk (luka punggung robek), Ragil Sanjaya (25), warga Ds Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan, Madiun.

Untuk korban luka yang dirawat di RS Bhayangkara Nganjuk antara lain; Subhi (36), warga Dsn Patuhjajar, Ds Margopatut, Sawahan Nganjuk, mengalami luka bengkak di kepala belakang, punggung dan dahi sebelah kanan lecet. Sementara korban luka ringan, dikabarkan langsung kembali ke rumah masing.

"Dari laporan yang kami terima kejadian sekitar pukul 16.00 WIB, yang diawali dari longsornya pohon kecil yang disertai batuh jatuh dari ketinggian 105 meter dari ketinggian air terjun. Pada saat kejadian, kebetulan ada para pengunjung yang sedang mandi di bawah dan longsoran langsung mengenai mereka," terang Kapolsek Sawahan, AKP Sumadi WR.(adm/bas)